Rabu, 16 November 2011

Love You Bapak


Yesterday, 15th November 2011 was my father’s 53rd  birthday. I don’t have such a perfect present representing his perfect love for us. Always be the best husband and father. Happy Birthday Bapak.
God Bless You
Love you...
Ibuk, Rita, Mega, Galih.
My beloved parents :)
“Argh, bokap gue gak asik, cuma ngeselin doank!”

“Ckck, anak kok susah sekali diatur, cuma bikin masalah!”

Memang aku tidak tahu apa masalah mereka, anak yang membenci bapaknya, atau bapak yang membenci anaknya. Sangat disayangkan, bukankah seharusnya mereka saling mengasihi? Dan itu jauh lebih indah bukan? Hubungan antara ayah dan anak mengingatkanku akan kisah The Prodigal Son.  Kisah dimana akhirnya sang ayah tetap mau menerima kembali anaknya yang telah lama hilang. Bahkan sang ayah semakin mengasihinya, walaupun sang anak telah hidup berfoya-foya dengan menghambur-hamburkan harta ayahnya. Walaupun dalam kisah ini tokoh ayah sebagai perumpamaan Bapa di surga dan anak-anaknya sebagai kita, manusia. Namun, setidaknya kita bisa melihatnya dengan sudut pandang yang berbeda, yakni dalam kehidupan keluarga kita sendiri.  Hubungan seorang ayah dengan anaknya.
Sering sosok ayah terabaikan daripada sosok ibu.  Bahkan sosok ibu pun lebih banyak diangkat sebagai tema artikel atau reality show. Tanggal 22 Desember pun didedikasikan khusus sebagai harinya para ibu. Beberapa pribadi bahkan menilai sosok ibu jauh lebih berperan dominan dalam perkembangan seorang anak. Toh pepatah bilang, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Memang tidak bisa dipungkiri jika peran dan perjuangan seorang ibu dalam hidup seseorang sangatlah berarti. Namun, tahukah kalian kenapa janin manusia hanya bisa terbentuk jika ovum dan sperma bertemu? Secara teoritis, tak perlu dijelaskan, banyak orang dengan mudah menjabarkannya. Namun, aku merasa Tuhan punya maksud atas itu semua.
Kita tercipta karena adanya ayah dan ibu yang saling melengkapi. Layaknya kaki kanan dan kiri,pengandaiannya ibu sebagai kaki kanan dan ayah sebagai kaki kiri. Jika salah satu kaki tidak dapat berfungsi dengan baik atau bahkan tidak ada, pasti pincang. Mungkin kita masih bisa berjalan,dengan bantuan alat, atau kaki buatan mungkin, tapi toh akan tetap berasa beda bukan?. Karena itu, jangan memandang sebelah mata akan sosok seorang ayah. Keberadaannya patut kita syukuri dan hargai. Walaupun kadang banyak orang bilang jika karakter seorang ayah itu keras, berkuasa, atau ingin selalu nomor satu. Akan tetapi, sadarkah kita? Tanggung jawab yang harus beliau ampu itu sungguh berat. Mulai dari mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan yang tiada batasnya hingga memberikan tempat yang nyaman bagi istri dan anak-anaknya.. Banyak anak yang memimpikan mempunyai ayah yang super, bisa mengerjakan apa-apa. Menuntut ini itu tanpa memikirkan kemampuan sang ayah. Tak jarang si anak pun marah hingga ngambek jika keinginannya tidak bisa terpenuhi. Dulu aku sering begitu bahkan sekarang pun ketika permintaanku tidak terpenuhi, masih sering aku merajuk. Namun, aku selalu kembali tersadar bahwasanya ayahku, yang lebih nyaman kupanggil bapak, bukan milyuner ataupun a perfect man who can do and give anything.
   Bapakku memang bukan pria yang sempurna dan kaya raya, tapi aku tahu, ia berusaha untuk memberikan cinta yang sempurna dan tiada batas kepada keluarganya. Bapakku pernah rela memakai kaos kaki bekas anak-anak perempuannya yang sudah longgar daripada beli yang baru, masih bisa dipakai katanya. Bahkan bapakku pernah membeli sepasang sepatu kerjanya seharga dua puluh lima ribu demi membelikanku sepatu seharga seratus ribu. Ya, bapak membelinya di tukang reparasi sepatu. Dulu pernah juga bapakku memakai sepatu yang belum kering benar saat ke sekolah karena hanya punya sepasang sepatu. Padahal bapakku seorang guru, yang secara penampilan, bisa dibilang menjadi salah satu tolak ukurnya. Tapi ya itu bapakku, bukan pelit tapi memang sangat irit demi masa depan ketiga anaknya. Meski sekarang keadaan ekonomi keluarga kami sudah lebih baik, tetap saja bapakku masih setia dengan sikap superhematnya. Namun, sikap superhematnya hanya dia berlakukan untuk kebutuhan pribadinya sedangkan untuk urusan keluarga, pendidikan, kesehatan dan sosial, orang Jawa bilang, ia loma (baca:murah hati) sekali.
Pepatah mengatakan “like father like son”, mungkin memang benar adanya.  Bapakku mengasihi anak-anaknya dengan sungguh seperti halnya simbah kakungku juga sangat mengasihi bapakku. Meski banyak perbedaan diantara mereka  berdua, tapi sering juga kutemukan persamaan diantara keduanya. Raut muka mereka memang galak tapi tatapan matanya teduh, penuh kasih. Hubungan mereka sangat baik,bahkan simbah kakung hanya mau dicukur rambutnya oleh bapakku saja. Jadi bisa dibayangkan, jika setahun saja bapakku tidak menengok simbahku, simbahku mungkin akan keren sekali dengan rambut putih gondrongnya.
Beberapa bulan yang lalu, saat aku mengunjungi simbahku. Di suatu pagi, simbah kakung (SK) bertanya padaku,
SK        : “Ta, bapakmu sekolahe (baca:kuliah) nangdi?“ (Ta,bapak kamu sekolahnya dimana?”.
Aku      : “Wonten SADHAR mbah” (di SADHAR mbah )”
SK        : “SADHAR, Sanata Dharma?, podo koe berarti?” (SADHAR, Sanata Dharma?, sama sepertimu?)
Aku      : “Inggih mbah“(iya mbah).
SK        : “Mlebune dina opo wae?” (Masuknya hari apa saja?).
Aku      : “Dinten Sabtu kaleh Minggu mbah” (hari Sabtu dan Minggu mbah).
Tampak simbahku berpikir lama, aku pun berpikir pembicaraanku sudah selesai, namun tiba-tiba simbahku pun bertanya lagi ,
SK        : “Ooo, lha nek sekolahe Sabtu Minggu, njuk nang grejane kapan?”(Ooo,kalau sekolahnya Sabtu dan Minggu, terus ke gerejanya kapan?”
Aku pun terhenyak, simbahku yang sudah berusia hampir satu abad masih memikirkan perkembangan iman bapakku yang sudah berumur lebih dari 5 dekade. Aku jadi tahu alasan mengapa bapakku dulu saat tahun-tahun pertama aku kuliah di Jogja, jauh dari orang tuaku di Magelang, bapakku selalu bertanya, ”Dek, wis nang greja durung?” (Dek, sudah ke gereja belum?), setiap kali menelponku. Namun, aku malahan lebih sering malas menjawabnya dengan tidak peduli atau malah mengganti topik pembicaraan. Aku pikir toh aku sudah besar, masak harus selalu diingatkan untuk selalu ke gereja. Apa bapak tidak percaya kepadaku. Lama kelamaan bapak tidak lagi menanyakan hal itu padaku. Tak tahu, mungkin karena bapak tahu kalau aku tidak suka diingatkan hal itu atau karena memang bapak sudah percaya padaku? Kini aku sadar,aku kadang ingin bapak menanyakan hal itu lagi. Aku butuh dan akan selalu ingin bapak mengingatkanku agar aku selalu ingat pada Tuhan, rajin berdoa dan tak lupa ke gereja.
Masihkah kau membenci ayahmu? Jangan dibiarkan berlarut-larut hingga terlambat dan akhirnya kamu menyesal. Saat ini, datangi dia, peluk dia dan katakan, “Ayah, maafkan aku sesungguhnya aku sangat mencintaimu”. Dan lihat jika perlu tunggulah sebentar, pasti sesuatu akan terjadi. Buat ayahku, love you, Bapak.
Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu-ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Ef. 6:1-4)
Gini ni gaya bapakku klo lagi mencukur rambut simbah kakungku :)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar