Rabu, 26 Oktober 2011

Ada kasih di Angkot D2 (Part II)


......................

Obrolan terus berlanjut, saling tanya dan jawab. Aku ikut asyik mendengarnya sambil sesekali tersenyum pada suster yang begitu antusias mengobrol dengan si simbah. Tak terasa Mirota sudah dekat, dan si simbah ini akan turun dari angkot D2 ini dan mencari angkot lain lagi untuk sampai di rumahnya nanti. Si simbah kembali menghitung uang receh yang dipegangnya tadi erat- erat, memastikan bahwa uangnya pas, tidak kurang. “Dua ribu lima ratus to?”, tanya simbah pada si suster untuk sekali lagi memastikan bahwa uangnya cukup untuk membayar angkot sesuai tarif.  “Iya, tapi udah mbah, biar saya bayarin aja”, kata si suster tulus. “Lho, tapi wong ini udah ada kok”,  jawab simbah sambil memperlihatkan uang recehannya. Aku terheran, hah, simbah ni keren banget ya, mau dibayarin kok gak mau. Padahal kan uangnya bisa digunakan buat yang lain. Di hidupnya yang serba kekurangan, ia masih berpikir untuk bisa mematuhi sebuah aturan khusus yang melibatkan uang, dalam hal ini “tarif angkutan”.
Aku jadi teringat beberapa tahun yang lalu, saat aku naik bis pulang kampung. Tarif normal Jogja-Magelang waktu itu masih tujuh ribu rupiah tiap orang. Seperti biasa aku juga selalu membayar sesuai tarif. Tapi ada seorang gadis, sepertinya juga anak kuliahan. Mungkin aku sok tau, tapi terlihat dari pakaian yang bisa dibilang orang mampu dan cara bicaranya seperti seorang mahasiswi, katakanlah orang terpelajar, hanya membayar lima ribu saja. Saat ditanya sang kernet, si gadis menjawab kalo dia akan turun di Muntilan. Pikirku, ya pantaslah toh tarif Jogja-Muntilan memang lima ribu dan berarti nanti dia turun terlebih dahulu dari aku. Namun anehnya, sampai di Muntilan si gadis ini tidak turun. Saat aku turun tempat perhentianku yang memang sudah memasuki wilayah Magelang, si gadis ini pun belum juga turun. Yah, berarti dia bohong dong demi dapet ongkos yang lebih murah, kok gitu sih?. Aku jadi semakin mengagumi si simbah. Seorang gadis, yang seorang anak kuliahan ternyata kalah sama simbah tua yang mungkin hidupnya serba kekurangan. Aku jadi malu, jangan-jangan aku juga sering gitu ya?
Kembali ke angkot yang kutumpangi sekarang. Saat si simbah berusaha menolak bantuan si suster. Si suster berusaha meyakinkan si simbah.  “Udah, nggak papa, uangnya disimpan aja buat bayar angkot berikutnya”, terang si suster sambil menyelipkan sejumlah uang ke tangan simbah ini. Dengan masih heran, si simbah memandang benar wajah si suster sambil berkata, “Terimakasih sekali ya, semoga Tuhan memberkati.” Aku tertegun mendengar doa si simbah yang begitu lugu tapi sangat tulus. Si suster menjawab dengan senyum. Dengan bahasa Jawa halus, si simbah meminta si sopir angkot untuk berhenti. Akhirnya si simbah pun turun sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih. Si simbah dengan sangat pelan dan hati-hati turun dari angkot dengan berpegangan pintu angkot. Rupanya ia sudah sangat rentan hingga ia tidak bisa langsung berdiri tegap. Kuperhatikan saat angkot yang kutumpangi sudah mulai menjauh, ia masih merangkak meraba-raba trotoar berusaha berdiri. Aku kembali tertegun....
ternyata raganya sudah rapuh…
jauh dari jiwanya yang tegarnya begitu ampuh….
aku jadi merasa terlalu angkuh…
saat “berjalan” sebentar saja sudah mengeluh…
Dalam hati aku berucap, “Mbah, terima kasih juga, aku merasa terberkati juga hari ini karena kehadiranmu di angkot tua ini mbah”. Kukagum bukan karena kebaikan suster, tapi karena kepolosan dan ketegaran simbahlah yang menghidupkan kasih ini. Kasih Tuhan menyapa di angkot D2 ini ^0^…”


P.S :
  • Tulisan lama tapi selalu mengingatkanku pada sosok simbah putriku. Perjuangan luar biasa mbah putriku mendampingi mbah kakungku dan mengurus kesebelas putra-putinya. Jadi gambarnya pake foto mbah putriku ya. Oya, mbah putriku juga masih sehat dan kuat, hidup mbah putri!!! ^0^
  • Sebelumnya  refleksiku ini pernah dimuat di majalah kampus Tiramisu, edisi No.1 Tahun ke-1, Agustus 2009 dengan judul yang sama . Membaca kembali artikel ini semakin membuatku kembali lebih bersyukur dan berusaha bersikap adil bagi sesama. GBU ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar